ABUM KM-BPI

Navigasi: Beranda ABUM KM-BPI




Membaca Mushaf dalam Shalat

Dibuat oleh Admin

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ustadz, apakah boleh seorang imam yang sedang memimpin sholat wajib atau sholat sunah (katakanlah, sholat sunnah tarawih)  mengembangkan/membuka Al-Quran di depan beliau dengan tujuan bacaan ayat lancar dan proses sholat juga berjalan lancar.

Jazakumullah.

 

Wassalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh,

Hamba Allah

 


Wa ‘alaikum salam warahmatullah wabarakatuh,

Saudaraku yang semoga dirahmati Allah SWT dan selalu diberikan istiqomah.

 

Para ulama' berselisih pendapat, Namun pendapat yang kuat adalah, Bahwa seorang imam (dalam sholat jama'ah) atau seseorang (ketika sholat munfaridan) BOLEH melihat mushaf dalam sholat.” Apalagi bila ia tidak memiliki hafalan dari ayat-ayat dalam Al Qur'an.

Di antara yang menguatkan pendapat ini adalah para ulama' dari kalangan madzhab Syafii, Ibnu Qudama, An Nawawi, Azh Zhuhry, dll.

Al Imam Azh zhuhry ditanya tentang seseorang yang membaca Al Qur'an dalam sholat saat Ramadhan, maka ia menjawab, ‘Itu adalah amalan pilihan kami saat Ramadhan.’” (Al Mudawwanah Al Kubro: 1, hal : 288-289 / Al Mughny Ibnu Qudama: 1, hal : 335)

 

Wallahu a’lam. 

Barokallah fikum.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita kepada ilmu yang benar.

 

 

Wassalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh,

Oemar Mita, Lc. & Tim Syameela

Lebih Lanjut

Dana Pembangunan Masjid untuk Keperluan Lain

Dibuat oleh Admin

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ustadz, saat ini di perumahan saya sedang melakukan proses pembangunan masjid/mushalla Akan tetapi terjadi musibah yang menyebabkan salah satu pekerja mengalami cedera. Apakah dana pembangunan masjid/mushalla dapat digunakan untuk pengobatan si pekerja yang cedera tersebut ?

Jazakumullah.

 

Wassalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh,

Hamba Allah

 


Wa ‘alaikum salam warahmatullah wabarakatuh,

Saudaraku yang semoga dirahmati Allah SWT dan selalu diberikan istiqomah.

 

Harta yang dikumpulkan untuk membiayai kebutuhan masjid adalah harta wakaf, sehingga bendahara masjid tidak diperbolehkan untuk meminjam uang tersebut untuk keperluan dirinya ataupun meminjamkan uang tersebut kepada orang lain. Bendahara masjid adalah orang yang mendapatkan amanah untuk membelanjakan uang masjid untuk kebutuhan yang telah ditetapkan oleh orang yang berinfak, yang dalam hal ini adalah segala kebutuhan masjid. Oleh sebab itu, tidak boleh bagi bendahara masjid untuk mengeluarkan uang masjid untuk kepentingan selainnya. Sebagai bentuk mentaati perintah Allah, Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyampaikan amanah-amanah itu kepada pemiliknya. (Qs. An-Nisa’: 58)

Sedangkan amanah dari para donatur dan penderma adalah untuk digunakan dalam rangka kebutuhan masjid, bukan yang lain. Meskipun seluruh pengurus masjid bersepakat dalam hal itu tetap tidak boleh sebab bersepakat untuk berkhianat dalam amanah adalah maksiat, karena pengurus masjid bertindak sebagai pelaksana amanah bukan pemilik Dana tersebut.

Solusinya mungkin bisa salah seorang diantara jamaah masjid atau beberapa orang iuran untuk membantu biaya pengobatan pekerja tersebut. Dan hal itu merupakan ladang amal baik bagi seluruh jamaah yang andil dalam usaha meringankan musibah saudaranya.

Rasulullah bersabda, Allah menolong hamba-Nya selama ia gemar menolong saudaranya.” (HR. Muslim no.2699)

 

Wallahu a’lam. 

Barokallah fikum.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita kepada ilmu yang benar.

 

 

Wassalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh,

Oemar Mita, Lc. & Tim Syameela

Lebih Lanjut

Rezeki

Dibuat oleh Admin

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ustadz, ada yang hendak ditanyakan.

  1. Dalam berbagai kesempatan, saya mendapatkan informasi bahwa sebenarnya Allah SWT telah menjamin rizki untuk manusia dan dia tidak akan meninggal sebelum dia mendapatkan seluruh rizki tersebut. Namun disisi lain, Allah mewajibkan manusia untuk bekerja seolah – olah dia akan hidup selamanya didunia. Bagaimana menyikapi hal tersebut? Dan sebenarnya apa maksud dari perintah Allah tersebut? Untuk apa kita bekerja keras apabila Allah sudah menjamin rezeki bagi setiap manusia?
  2. Apakah bentuk – bentuk rezeki itu? Bagaimana caranya agar kita selalu diberikan kelancaran, kemudahan dan keberkahan oleh Allah SWT dalam mendapatkan rezeki tersebut? Bagaimana caranya agar tetap istiqomah dalam menjalankan takdir Allah meskipun itu belum sesuai dengan keinginan kita?
  3. Apabila saya mempunyai uang sebesar Rp. 50juta. Dengan uang itu saya memiliki pilihan yaitu mendaftar haji untuk 2 orang sebesar Rp 25juta/orang atau melunasi hutang saya sebesar Rp. 100juta. Manakah yang harus saya prioritaskan? Dan bagaimana dalilnya mengenai hal tersebut?

 

Wassalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh,

Hamba Allah

 


Wa ‘alaikum salam warahmatullah wabarakatuh,

Saudaraku yang semoga dirahmati Allah SWT dan selalu diberikan istiqomah,

 

Bahasan Poin 1.

Rejeki manusia sudah ditentukan oleh Allah subhanahu wataala. Allah berfirman yang artinya, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” (Qs. Huud: 6)

Dalam sebuah hadits juga disebutkan, “Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata bahwa telah berkata kepada kami Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan dia adalah orang yang jujur lagi dipercaya,Sesungguhnya tiap kalian dikumpulkan ciptaannya dalam rahim ibunya, selama 40 hari berupa nutfah (air mani yang kental), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama itu juga, lalu menjadi mudghah (segumpal daging) selama itu, kemudian diutus kepadanya malaikat untuk meniupkannya ruh, dan dia diperintahkan mencatat empat kata yang telah ditentukan: rezekinya, ajalnya, amalnya, kesulitan atau kebahagiannya. Demi zat yang tiada Ilah kecuali Dia, sesungguhnya setiap kalian ada yang melaksanakan perbuatan ahli surga sehingga jarak antara dirinya dan surga hanyalah sehasta, namun dia telah didahului oleh alkitab (ketetapan/takdir), maka dia mengerjakan perbuatan ahli neraka, lalu dia masuk ke dalamnya. Di antara kalian ada yang mengerjakan perbuatan ahlin naar (penduduk neraka), sehingga jarak antara dirinya dan neraka cuma sehasta, namun dia telah didahului oleh taqdirnya, lalu dia mengerjakan perbuatannya ahli surga, lalu dia memasukinya.’ (HR. Al Bukhori)

Akan tetapi hal tersebut tidak menafikan untuk berusaha. Karena zat yang memberi kita rejeki zat itu pula yang memperintahkan kita untuk tidak berpaku tangan dan menunggu. Dalam banyak kesempatan Allah Ta’ala memotifasi hambanya untuk bekerja. Allah Ta’ala berfirman, “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. (Qs. Al-Mulk: 15)

Dan Allah Ta’ala berfirman, “Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Qs. Al Jumu'ah: 10)

Rasullullah SAW bersabda, “Hendaknya seorang di antara kalian mengambil tali lalu pergi ke gunung dan datang dengan seikat kayu di punggungnya, lalu ia menjualnya sehingga hasil penjualannya itu dapat memenuhi kebutuhannya; yang begitu itu lebih baik baginya daripada iameminta-minta manusia,karena bisa jadi dia diberi dan bisa jadi dia ditolak.” (HR.Al Bukhori)

Rasullullah SAW juga bersabda, Tidak ada makanan yang lebih baik untuk dimakan oleh seseorang melebihi apa yang dihasilkan oleh hasil jerih payah tangannya.” (HR. Al Bukhori)

Kesimpulanya adalah kita harus senantiasa menyeimbangkan konsep tawakkal dan ikhtiyar, konsep pasrah dan berusaha. Hasil jerih payah yang diusahakan oleh manusia itulah jatah rejeki yang Allah Ta’ala berikan padanya.

 

Bahasan Poin 2.

Ibnu Manzur dalam Lisanul Arab mendefinisikan kata (???) rizki sebagai berikut: Segala sesuatu yang bisa menopang kehidupan makhluq hidup baik berupa material ataupun spiritual.”

Dari definisi diatas bisa kita tarik kesimpulan bahwa rejeki itu tidak hanya berupa materi seperti makanan, minuman, uang, sandang, pangan dan lain sebagainya. Akan tetapi rejeki lebih luas dari pada itu. Keimanan, keislaman, keistiqomahan, kesabaran, dan ketenangan hidup juga merupakan rejeki yang harus kita syukuri.

Allah Ta’ala berfirman, Dan ingatlah tatkala Rabbmu mengumandangkan bahwa andai kalian bersyukur,niscaya Aku akan menambahkan (nikmat) kalian, namunbila kalian kufur, sejatinya siksaku sungguh pedih.” (Qs. Ibrohim: 7)

Adapun sebab-sebab  pelancar rejeki banyak berikut sebagian diantaranya :

  1. Bertaqwa kepada Allah. Dalam Al Quran Allah Ta’ala berfirman, “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Qs. Ath-Tholaq: 2)
  2. Bertawakal kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman, Barang siapa bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupinya.” (Qs. At Thalaq: 3)
  3. Beristighfar. Allah Ta’ala berfirman, “Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. ” (Qs. Nuh: 10-12)
  4. Bersodaqoh. Allah Ta’ala berfirman, Dan apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (Qs. Saba’: 39)

Supaya tetap istiqomah dan tegar dalam menempuh taqdir Allah kita harus tahu bahwa tidak semua hal yang kita tidak suka itu pasti jelek bagi kita, begitu juga sebaliknya karena pada akhirnya yang menentukan adalah Allah SWT.

Allah Ta’ala berfirman, “Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu,padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui,sedang kamu tidak mengetahui.” (Qs. Al Baqarah: 216)

Yang perlu kita lakukan adalah bertaqwa dan pasrah kepada Allah Ta’ala, dengannya kita akan selalu diberi solusi.

Allah Ta’ala berfirman, “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkannya.” (Qs. Ath-Tholaq: 2-3)

Syeikh Assa'di mentafsirkan ayat diatas sebagai berikut, “Maka setiap orang yang bertakwa kepada Allah Ta’ala dan senantiasa berusaha meraih keridhoaan Allah dalam seluruh kondisinya, maka Allah akan membalasnya di dunia dan akhirat, dan diantara bentuk balasan-Nya adalah Dia akan menjadikan untuknya kemudahan dan jalan keluar dari setiap kesulitan serta beban. Dan apabila orang yang bertakwa kepada Allah akan Dia berikan kemudahan serta jalan keluar, maka sebaliknya, orang yang tidak bertakwa kepada Allah akan menghadapi berbagai macam kesusahan,kesulitan yang berat dan himpitan kehidupan yang ia tidak mampu lepas darinya dan keluar dari akibat-akibat buruknya.” (Tafsir Assa'di)

 

Bahasan Poin 3.

Membayar hutang tentunya didahulukan dari pada berhaji. Akan tetapi bila uang tersebut sudah dipakai untuk melaksanakan ibadah haji maka hajinya tetap sah.

Berkatalah Al Hattob dalam kitab Mawahibul Jalil, "Kalau orang tersebut mempunyai tanggungan hutang,maka diutamakan membayar hutang dari pada haji.” (Mawahibul Jalil)

Fatwa serupa juga dikemukakan oleh mufti Saudi terdahulu, Syeikh Abdul 'Aziz bin Baz.

 

Wallahu a’lam. 

Barokallah fikum.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita kepada ilmu yang benar.

 

 

Wassalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh,

Oemar Mita, Lc. & Tim Syameela

Lebih Lanjut

Amalan Saat Kehamilan hingga Melahirkan

Dibuat oleh Admin

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ustadz, tolong diberikan informasi amalan-amalan yang shahih, baik wajib maupun sunnah selama masa kehamilan sampai kelahiran anak yang dicontohkan Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam.

 

Wassalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh,

Hamba Allah

 


Wa ‘alaikum salam warahmatullah wabarakatuh,

Saudaraku yang semoga dirahmati Allah SWT dan selalu diberikan istiqomah,

 

Berikut ini adalah amalan-amalan yang sebaiknya dilakukan ketika ibu mengandung agar anak yang dilahirkan menjadi anak yang sholih/ah.

1. Perbanyak bersyukur

Bersyukur kepada Allah SWT atas kehamilan yang diberikan. Bersyukur tidak hanya dengan ucapan tapi juga perbuatan. Menjaga kandungan dengan baik itupun bagian dari sebuah kesyukuran kita. Karena apabila bersyukur Allah SWT akan menambahkan nikmat kepada kita, dan tambahan nikmat itu adalah anak yang sholih yang kelak akan lahir dari rahim yang Allah SWT titipkan kepada kita.

2. Perbanyak doa

Berdoalah untuk sang jabang bayi. Walau ia belum lahir ia dapat merasakan doa-doa yang dipanjatkan ibu dan ayahnya. Berdoalah dengan khusyu, bisa menggunakan bahasa Arab atau bahasa Indonesia, yang penting kita mengerti doa yang kita panjatkan. Jangan sampai doa yang sudah panjang lebar kita panjatkan tetapi tidak tahu artinya. Ada banyak doa yang Rasulullah SAW ajarkan kepada kita, salah satunya ada dalam Al Qur’an Qs. As-Shofat: 11, Ya Allah berikanlah kami anak yang sholih. 

3. Didik anak walau ia masih dalam kandungan

Pun ia belum lahir ke dunia, pendidikan dalam Islam dimulai ketika anak berada dalam kandungan. Ajak janin berbicara, membaca al-qur’an, memperdengarkan murottal Al-Qur’an, sering mengikuti kajian keislaman dan kebaikan lainnya. Selain itu perilaku orang tua (ayah dan ibu) ketika ibu mengandung akan berpengaruh besar pada janin. Memperbagus ibadah akan memberikan pengaruh positif pada janin. Subhanallah.

4. Menjaga emosi

Emosi ibu ketika mengandung berpengaruh juga pada janin. Maka, hendaklah ibu menjaga emosinya. Berusaha untuk selalu sabar, tidak mudah marah dan menjaga lisan, tidak mengeluarkan kata-kata kotor. Karena janin pun dapat merasakan emosi ibu yang sedang marah, mengumpat dan perbuatan buruk lainnya. Naudzubillaah.

5. Memperhatikan asupan makanan

Dalam Q.S Al-Baqarah: 168, Allah SWT berfirman, “Wahai manusia makanlah makanan yang ada di bumi yang halal lagi baik.” Berikan makanan yang halal kepada janin. Jangan sampai ada makanan haram masuk kedalam perut ibu, karena kehalalan rizki juga akan berpengaruh bagi janin. Makanlah makanan yang halal, baik dan bergizi, agar janin tetap sehat.

6. Periksakan kandungan

Wajib bagi ibu yang sedang mengandung untuk memeriksakan kandungannya ke dokter atau bidan agar ia mengetahui bagaimana kondisi janin. Tak segan untuk meminta saran dokter atau bidan untuk kebaikan kandungannya.

7. Kehalalan rizki

Perhatikan kehalalan apapun yang kita pakai dan makan. Jika ada yang subhat, lebih baik ditinggalkan. Pilih barang atau makanan yang sudah jelas kehalalannya.

Semoga amalan di atas manfaat bagi para ibu hamil, agar kelak generasi berikutnya menjadi anak yang sholih-sholihah dan negeri ini akan dipenuhi oleh generasi Robbani, Qur’ani. Aamiin.

 

Wallahu a’lam. 

Barokallah fikum.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita kepada ilmu yang benar.

 

 

Wassalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh,

Oemar Mita, Lc. & Tim Syameela

Lebih Lanjut

Sunnah atas Anak yang Baru Lahir

Dibuat oleh Admin

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ustad mau tanya tentang hukum memotong rambut anak yang baru lahir:

  1. Apakah harus benar-benar sampai gundul? Ataukah cukup beberapa helai saja sebagai syarat?
  2. Kapan waktu yang tepat? Karena tidak tega jika kepala bayi masih lunak (kecil). Apakah dapat menunggu cukup dewasa? Sampai maksimal umur berapa (berapa hari, atau berapa bulan)?
  3. Hukum membayar sodakoh sesuai berat total rambut anak yang dicukur, apakah senilai gram emas atau perak?

Jika anak perempuan yang lahir, apakah perlu disunat? Karena ada beberapa sumber yang bilang sunnah, sementara sumber lainnya bilang wajib. Bagaimana metodenya?

 

Wassalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh,

Hamba Allah

 


Wa ‘alaikum salam warahmatullah wabarakatuh,

Saudaraku yang semoga dirahmati Allah SWT dan selalu diberikan istiqomah,

 

Apakah harus benar-benar sampai gundul? Ataukah cukup beberapa helai saja sebagai syarat?

Yang tepat adalah harus digundul halus berdasarkan lafadz hadits (halaq). Dan karena disana terdapat Hikmah yang disebutkan oleh ahli thibbiyyah, yaitu berpotensi buat kesehatan kepala sang bayi.

 

Waktu yang Tepat?

Waktu mencukur rambut bayi yang sesuai sunah adalah ketika hari ketujuh pasca kelahiran. Berdasarkan beberapa dalil yang menjelaskan tentang aqiqah, diantaranya:

Hadis dari Salman bin Amir adh-Dhabbi radhiyallahu ‘anhu, beliau mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Setiap anak ada aqiqahnya, sembelihlah di hari ketujuh dan hilangkan kotoran dari bayi itu.” (HR. Bukhari 5471)

Dari Samurah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya. Disembelih pada hari ketujuh, diberi nama, dan digundul kepalanya.” (HR. Nasai 4149, Abu Daud 2837, dan Turmudzi 1522)

Ibnu Qudamah mengatakan, Dianjurkan menggundul kepala bayi pada hari ketujuh dan diberi nama.

Berdasarkan hadis Samurah, Jika dia bersedekah dengan perak seberat rambut itu, maka itu merupakan perbuatan yang baik.

Berdasarkan hadis bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada Fatimah ketika melahirkan Hasan, “Cukur rambutnya, bersedekahlah dengan perak seberat timbangan rambutnya kepada orang miskin dan ahlus sufah.” (HR. Ahmad, al-Mughni, 22:8)

Dalam Ensiklopedi Fikih dinyatakan, Mayoritas ulama di kalangan Malikiyah, Syafiiyah, dan Hambali berpendapat dianjurkan untuk mencukur rambut bayi pada hari ketujuh, kemudian bersedekah dengan emas atau perak seberat rambut menurut Malikiyah dan Syafiiyah,sementara menurut Hambali, sedekahnya dengan perak saja. Jika bayi tidak dicukur, orang tuanya bisa memperkirakan berat rambutnya dan bersedekah seberat rambut itu. Kemudian mencukur rambut dilakukan setelah menyembelih aqiqah. (Mausu’ah al-Fiqhiyah, 26:107)

 

Sedekah Senilai Gram Emas atau Perak?

Dalam karyanya Tuhfatul Maudud, Ibnul Qoyim menyebutkan beberapa riwayat dan keterangan ulama yang menganjurkan bersedekah dengan perak seberat rambut bayi.

Imam Ahmad mengatakan, Sesungguhnya Fatimah radhiyallahu ‘anha mencukur rambut Hasan dan Husain, dan bersedekah dengan wariq (perak) seberat rambutnya.

Imam Malik meriwayatkan dalam al-Muwatha’, dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, beliau mengatakan, Fatimah menimbang rambut Hasan, Husain, Zainab, dan Ummu Kultsum, dan beliau bersedekah dengan perak seberat rambut itu.

Imam Malik juga menyebutkan dalam al-Muwatha’ dari Muhammad bin Ali bin Husain, bahwa beliau mengatakan, Fatimah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammenimbang rambut Hasan dan Husain, kemudian beliaubersedekah dengan perak seberat rambut itu.

Dan masih banyak riwayat lainnya yang disebutkan Ibnul Qoyim.

 

Cara Bersedekah dengan Rambut Bayi

Caranya: Timbang rambut bayi. Jika tidak memungkinkan (misal karena kesulitan mendapatkan timbangan benda ringan), cukup diprediksi saja. Misal berat rambutnya 2 gram. Cari informasi harga perak per gram. Misal harganya Rp. 12.000/gram. Maka yang disedekahkan adalah 2 gram x Rp. 12.000 = Rp. 24.000, kepada orang miskin SIAPAPUN yang ada di sekitar kita. Jumlah ini dapat dibulatkan.

 

Hukum Khitan bagi Wanita

Hukum khitan bagi wanita yang terkuat adalah Sunnah, dimana dalil-dalil atas sunnahnya khitan bagi wanita, antara lain:

Di dalam sebuah hadist Ummu ‘Athiyyah bahwasanya di Madinah ada seorang wanita yang (pekerjaannya) mengkhitan wanita, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan berlebihan di dalam memotong, karena yangdemikian itu lebih nikmat bagi wanita dan lebih disenangi suaminya.” (HR. Abu Dawud, dandishahihkan oleh SyeikhAl-Albany)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalau bertemu dua khitan dan tenggelam khasyafah(ujung dzakar), maka wajib untuk mandi.” (HR. Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albany)

Ini menunjukkan bahwa wanitapun berkhitan. Namun, khitan bagi wanita hanya berkaitan dengan sebuah kesempurnaan saja yaitu pengurangan syahwat.

 

Wallahu a’lam. 

Barokallah fikum.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita kepada ilmu yang benar.

 

 

Wassalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh,

Oemar Mita, Lc. & Tim Syameela

Lebih Lanjut

Antara Nafkah dan Uang Belanja untuk Istri

Dibuat oleh Admin

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ustadz, saya mau bertanya terkait nafkah dan uang belanja untuk istri. Ada beberapa golongan yang menganggap bahwa nafkah dan uang belanja untuk istri itu berbeda. Sedangkan selama ini saya memberikan uang bulanan kepada istri tapi tidak membedakan dengan mengatakan sekian untuk nafkah dan sekian untuk uang belanja.

Apakah memang dalam Islam mengatur bahwa uang belanja dan nafkah itu berbeda ? Bagaimana Islam mengatur hal ini ?

Mohon Ustadz memberikan arahan. Terima kasih.

 

Wassalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh,

Hamba Allah

 


Wa ‘alaikum salam warahmatullah wabarakatuh,

Saudaraku yang semoga dirahmati Allah SWT dan selalu diberikan istiqomah.

 

Para ulama' tidak membedakan antara nafkah dan uang belanja, karena pada dasarnya uang belanja itu adalah bagian dari bentuk nafkah lahir.

 

Siapakah yang mestinya dinafkahi oleh suami ?

Yaitu istri dan anak-anaknya. Kebutuhan istri dan anak kandungnya adalah merupakan kewajiban suami yang harus ia tunaikan. Maknanya, nafkah itu bukan hanya meliputi sandang dan pangan saja, hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan adalah merupakan kewajiban suami bukan kewajiban istri.

 

Seberapa besar nilai nafkah tersebut ?

Para fuqoha (ahli fiqih) bersepakat bahwa ukuran yang wajib diberikan sebagai nafkah adalah yang makruf (yang patut atau wajar). Sedangkan mayoritas pengikut madzhab Hanafi, Maliki, dan Hambali, mereka membatasi yang wajib adalah yang sekiranya cukup untuk kebutuhan sehari- hari, dan kecukupan itu berbeda-beda menurut perbedaan kondisi suami dan istri dimana dalam kondisi demikian maka hakim-lah yang memutuskan perkara jika ada perselisihan. 

Hal ini didasari oleh firman Allah, “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf, seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.” (Qs. Al-Baqarah: 233)

Kadar nafkah untuk kecukupan keluarga dalam kehidupan sehari-hari dengan cara yang wajar telah ditegaskan oleh Rasulullah, ketika Hindun binti Itbah melaporkan yang suaminya yang sangat kikir, Beliau bersabda, “Ambil-lah nafkah yang cukup untukmu dan anak-anakmu dengan cara yang wajar.” (HR. Bukhori 4945)

Kemudian para ulama berbeda pendapat tentang besaran nafkah yang harus diberikan suami kepada istrinya.

  • Pendapat Pertama

Besaran nafkah harus dilihat kondisi sang istri, ini adalah madzhab Maliki, berdasarkan firman Allah, “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf, seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.” (Qs. Al-Baqarah: 233)

  • Pendapat Kedua

Besaran nafkah harus dilihat kondisi sang suami, ini adalah riwayat madzhab Hanafi dan Syafii yang lebih terkenal, dan hal ini didasari oleh firman-Nya, “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya.” (Qs. Ath-Thalaaq: 7)

  • Pendapat Ketiga

Besaran nafkah ditentukan menurut kondisi keduanya (suami dan istri), ini adalah madzhab Hambali, dan demikianlah yang difatwakan oleh segenap ulama madzhab Hanafi, dan pendapat inilah yang lebih benar karena dengannya terkumpul semua dalil di atas (dalil pendapat pertama dan kedua).

Pada dasarnya seorang suami wajib memberikan nafkah kepada istrinya pada permulaan pagi setiap harinya, karena saat itulah kebutuhan nafkah (makanan dan minuman) mulai terasa, akan tetapi jika keduanya sepakat untuk menunda atau memajukannya, seperti setiap akhir pekan atau setiap awal bulan atau akhirnya dan semisalnya (karena suatu kemaslahatan), maka itu dibolehkan, sebab nafkah hanyalah hak dan kewajiban suami istri.

Adapun untuk tempat tinggal maka wajib bagi seorang suami untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal istrinya dengan layak. Hal ini telah disepakati oleh para ulama, sebagaimana firman Allah, “Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (Qs. An-Nisaa’: 19)

Keterangan mengenai ayat di atas:

Termasuk mempergauli istri dengan cara yang patut adalah menempatkan istri di rumah yang patut/layak baginya, sebab istri membutuhkan tempat tinggal yang dapat dipakai beristirahat, bersenang- senang dengan suaminya dan menutupi auratnya dari pandangan manusia, serta untuk menjaga hartanya. Hanya saja tempat tinggalnya disesuaikan dengan kemampuan sang suami, sebab Allah berfirman, “Tempatkanlah mereka (para isteri) dimana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu.” (Qs. Ath-Thalaaq: 6)

Suami memenuhi kebutuhan istri sesuai ‘urf/adat setempat. Jika suami mampu (lihat Qs. Ath-Thalaq: 6), maka wajib baginya memenuhi kebutuhan istrinya sesuai dengan ‘urf/ adat setempat (karena hal ini termasuk dalam Qs. An-Nisaa’: 19). Sebagai contoh, jika adat penduduk setempat makanan sehari-harinya adalah roti, atau jika kebiasaan mereka tidur di atas kasur dan menggunakan bantal (bukan di lantai atau beralas tikar) maka itulah yang menjadi kewajiban suami jika ia mampu.

 

Wallahu a’lam.

Barokallah fikum.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita kepada ilmu yang benar.

 

 

Wassalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh,

Oemar Mita, Lc. & Tim Syameela

Lebih Lanjut

Niat dalam Menunaikan Zakat Penghasilan/Profesi

Dibuat oleh Admin

Assalamu 'alaikum,

Ustadz, saya selama ini memutuskan menunaikan zakat penghasilan melalui mekanisme pemotongan gaji di perusahaan secara langsung. Apakah saya perlu berniat? Bagaimana niat-nya? Sepemahaman saya, segala sesuatu yang baik dalam menjalankan anjuran agama, harus dengan niat, bahkan dilafalkan. Padahal setiap bulan kita secara langsung sudah berzakat.

Kemudian, bagaimana juga “niat”nya jika kita ingin meningkat jumlah potongan gaji untuk zakat tersebut. Apakah kita perlu cukup mengulang niat, atau hanya cukup sekali saja ?

Jazakallah.

 

Wassalamu 'alaikum,

Hamba Allah

 


Wa ‘alaikum salam warahmatullah wabarakatuh,

Saudaraku yang semoga dirahmati Allah SWT dan selalu diberikan istiqomah.

 

Disini, ada 2 hal yang akan ana bahas.

 

1. Masalah Niat

Tempat niat adalah di dalam hati. An Nawawi  berkata, Tidak ada khilaf dalam hal ini.” Ibnu Taimiyyah juga mengatakan, Niat tidaklah dilafadzkan.”

Dan jelas bagi kita bahwa niat adalah amalan hati dan bukan amalan dzahir. Adapun melafadzkan niat, maka tidak dicontohkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pula para sahabat beliau, dan tidak terdapat hadits dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan bahwa jika beliau hendak shalat atau berwudhu beliau mengucapkan, “Nawaitu an ushalli … (aku berniat untuk sholat…)” atau “Nawaitu an atawadhdha’ …(Aku berniat untuk wudhu…)” atau “Nawaitu an aghtasil…(Aku berniat untuk mandi)”, dan sebagainya.

Pun demikian kalau Bapak/Ibu akan menunaikan kewajiban zakat contohnya. Maknanya hal itu cukup terbesit dalam hati saja. Dan seandainya Bapak/Ibu hendak menzakatkan penghasilan dengan sistem yang telah dibuat oleh perusahaan dengan sistem potong gaji bulanan, maka cukup sekali niat saja. Cukup niatkan selama Bapak/Ibu masih menjadi karyawan di perusahaan ini untuk menunaikan zakat melalui sistem yang ada.

 

2. Masalah Zakat Profesi

Para ulama berselisih pendapat dalam hal ini. Yang masyhur membawa istilah ini adalah Asy Syaikh Yusuf Qordhowi, dan tidak berlaku di kalangan Dewan Fatwa Lajnah Daimah Saudi Arabiyyah.

Pun demikian cara pelaksanaannya pun berbeda. Ada yang tiap bulan, ada pula setelah setahun. Tiap bulan karena diqiyaskan dengan zakat hasil tanam. Dan Nishobnya pun setara 5 wasaq (652,8 kg) hasil bumi. Adapun jumlah zakat yang harus dikeluarkan adalah 2,5%.

Tentunya dari penghasilan bulanan itu sudah dikurangi :

  1. Kebutuhan pokok keluarga
  2. Cicilan hutang
  3. Biaya pendidikan, dll.

 

Wallahu a’lam. 

Barokallah fikum.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita kepada ilmu yang benar.

 

 

Wassalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh,

Oemar Mita, Lc. & Tim Syameela

Lebih Lanjut

Bersikap Pasca Ramadhan

Dibuat oleh Admin

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ustadz, sering saya mendengar bahwa Ramadhan adalah madrasah bagi setiap orang yang beriman. Lalu bagaimanakah tanda orang yang berhasil pada Ramadhan dan apa yang harus dilakukan setelah Ramadhan selesai ?

 

Wassalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh,

Hamba Allah

 


Wa ‘alaikum salam warahmatullah wabarakatuh,

Saudaraku yang semoga dirahmati Allah SWT dan selalu diberikan istiqomah.

 

Muhasabah Sebelum dan Sesudah Beramal

Bahwa terdapat seorang yang sholih pada zaman terdahulu ketika menginjak usianya yang ke-60 dan ia bermuhasabah atas apa yang telah dilakukannya, dan ia mendapati jumlah hari yang telah dihabiskan sebanyak 21.500 hari,maka beliau menjerit seraya mengatakan, ‘Duhai celaka diriku bila aku menemui Allah SWT dengan membawa 21.500 ribu kesalahan dan dosa dan bagaimanakah bila diriku setiap hari membawa kesalahan setiap harinya 20.000,maka bagaimanakah urusah hisabku dihadapanNya?’ Maka beliau pingsan yang menyebabkan kematianbeliau,dan ketika meninggal terdengar sebuah ayat,Wahai jiwa kembalilah engkau kepadaRabbmu.’” (lihat Mukhtasor Minhajul Qosidin Ibnu Qoyyim 357)

Oleh karena kalaulah seorang yang sholeh terdahulu mereka selalu bermuhasabah dalam hidupnya, terlebih kita yang sekarang hidup zaman yang penuh dengan syahwat dan syubhat.

Selalu mengukur hidup dan amalan kita dihadapan Allah SWT akan menghidupkan hati seorang hamba, tidaklah sebuah hati lalai beramal disebabkan karena melalaikan introspeksi dan koreksi dirinya di hadapan Allah SWT.

Maka sama dengan Ramadhan yang telah kita lalui, bulan yang penuh berkah telah berlalu. Bulan yang akan menjadi saksi yang akan membela setiap orang yang bersungguh-sungguh dalam mengerjakan ketaatan kepada Allah atau justru menjadi saksi yang akan menghujat setiap orang yang memandang remeh bulan Ramadhan,karena itu diperlukan sebuah muhasabah atau koreksi diri total dari hati setiap hamba Allah SWT paska Ramadhan sehingga madrasah dapat merubahnya menjadi hamba Allah SWT yang lebih baik dihadapan Rab Alaminn dan justru tidak sebaliknya, karena muhasabah setelah amalan selesai dilakukan adalah bagian dari mengasah hati dan melejitkan semangat yang lebih baik.

 

Kondisi Salafush Shalih Selepas Ramadhan

Pertanyaan yang teramat mendesak untuk dijawab oleh diri kita masing-masing adalah, Setelah Ramadhan berlalu, sudahkah kita menunaikan berbagai sebab yang akan mempermudah amalan kita di bulan Ramadhan diterima di sisi-Nya dan sudahkah kita bertekad untuk terus melanjutkan berbagai amalan ibadah yang telah kita galakkan di bulan Ramadhan?

Tidakkah kita meneladani generasi sahabat (salafush shalih), dimana hati mereka merasa sedih seiring berlalunya Ramadhan. Mereka merasa sedih karena khawatir bahwa amalan yang telah mereka kerjakan di bulan Ramadhan tidak diterima oleh Allah ta’ala. Sebagian ulama salaf mengatakan, “Mereka (para sahabat) berdo’a kepada Allah selama 6 bulan agar mereka dapat menjumpai bulan Ramadhan. Kemudian mereka pun berdo’a selama 6 bulan agar amalan yang telah mereka kerjakan diterima oleh-Nya.” (Lathaaiful Ma’arif hal. 232)

Oleh karena itu, para salafush shalih senantiasa berkonsentrasi dalam menyempurnakan dan menekuni amalan yang mereka kerjakan kemudian setelah itu mereka memfokuskan perhatian agar amalan mereka diterima karena khawatir amalan tersebut ditolak.

Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu mengatakan, “Hendaklah kalian lebih memperhatikan bagaimana agar amalan kalian diterima daripada hanya sekedar beramal. Tidakkah kalian menyimak firman Allah ’azza wa jalla, Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa. (Qs. Al Maaidah: 27) (Lathaaiful Ma’arif: 232)

Demikianlah sifat yang tertanam dalam diri mereka. Mereka bukanlah kaum yang merasa puas dengan amalan yang telah dikerjakan. Mereka tidaklah termasuk ke dalam golongan yang tertipu akan berbagai amalan yang telah dilakukan. Akan tetapi mereka adalah kaum yang senantiasa merasa khawatir dan takut bahwa amalan yang telah mereka kerjakan justru akan ditolak oleh Allah ta’ala karena adanya kekurangan. Demikianlah sifat seorang mukmin yang mukhlis dalam beribadah kepada Rabb-nya. Allah ta’ala telah menyebutkan karakteristik ini dalam firman-Nya, “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.” (Qs. Al Mukminun: 60)

Ummul Mukminin, ’Aisyah radliallahu ‘anha ketika mendengar ayat ini, beliau merasa heran dikarenakan tabiat asli manusia ketika telah mengerjakan suatu amal shalih, jiwanya akan merasa senang. Namun dalam ayat ini Allah ta’ala memberitakan suatu kaum yang melakukan amalan shalih, akan tetapi hati mereka justru merasa takut. Maka beliau pun bertanya kepada kekasihnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ’Apakah mereka orang-orang yang meminum khamr dan mencuri?’Maka rasulullah pun menjawab,Tidak, wahai Aisyah. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, menegakkan shalat dan bersedekah akan tetapi mereka merasa takut amalan yang telah mereka kerjakan tidak diterima di sisi Allah. Mereka itulah golongan yang senantiasa berlomba-lomba dalam mengerjakan kebajikan.” (HR. Tirmidzi nomor 3175. Imam Al Albani menshahihkan hadits ini dalam Shahihut Tirmidzi nomor 2537)

 

Kontinu dalam Beramal Shalih Selepas Ramadhan

Sebagian orang bijak mengatakan, Diantara balasan bagi amalan kebaikan adalah amalan kebaikan yang ada sesudahnya. Sedangkan hukuman bagi amalan yang buruk adalah amalan buruk yang ada sesudahnya.” (Al Fawaa-id hal. 35)

“Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seorang melakukan suatu kebaikan lalu diikuti dengan amalan yang buruk maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.” (Lathaaiful Ma’arif hal. 244)

Melanjutkan berbagai amalan yang telah digalakkan di bulan Ramadhan menandakan diterimanya puasa Ramadhan, karena apabila Allah ta’ala menerima amal seorang hamba, pasti Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya. Bukankah Allah ta’ala berfirman, “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga). Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (Qs. Al Lail: 5-7)

Termasuk sebagian ungkapan rasa syukur seorang hamba atas berbagai nikmat yang telah dianugerahkan kepadanya adalah terus menggalakkan berbagai amalan shalih yang telah ia lakukan setelah Ramadhan. Tetapi jika ia malah menggantinya dengan perbuatan maksiat maka ia termasuk kelompok orang yang membalas kenikmatan dengan kekufuran. Apabila ia berniat pada saat melakukan puasa untuk kembali melakukan maksiat lagi, maka puasanya tidak akan terkabul, ia bagaikan orang yang membangun sebuah bangunan megah lantas menghancurkannya kembali. Allah ta’ala berfirman, Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali.” (Qs. An-Nahl: 92)

“Apabila puasa mereka diterima di sisi Allah, apakah tindakan mereka tersebut adalah gambaran orang yang bersyukur kepada-Nya. Dan jika ternyata puasa mereka tidak diterima, apakah tindakan mereka itu adalah gambaran orang yang takut akan siksa-Nya.” (HR. Al Baihaqi dalam Asy Syu’ab nomor 3727, Lathaaiful Ma’arif hal. 232)

 

Maka kesimpulannya adalah:

  1. Banyaklah berdoa karena doa adalah sarana untuk menguatkan amalan seorang hamba.
  2. Dan tanda diterima sebuah amal adalah melahirkan sikap amal yang lebih baik dari sebelumnya.
  3. “Apabila puasa mereka diterima di sisi Allah, apakah tindakan mereka tersebut adalah gambaran orang yang bersyukur kepada-Nya. Dan jika ternyata puasa mereka tidak diterima, apakah tindakan mereka itu adalah gambaran orang yang takut akan siksa-Nya.” (HR. Al Baihaqi dalam Asy Syu’ab nomor 3727, Lathaaiful Ma’arif hal. 232)

 

Wallahu a’lam. 

Barokallah fikum.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita kepada ilmu yang benar.

 

 

Wassalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh,

Oemar Mita, Lc. & Tim Syameela

Lebih Lanjut

Membayar Hutang Puasa Orang Tua

Dibuat oleh Admin

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ustadz, bagaimana caranya menghitung fidyah untuk masa 30 hari buat orang tua yang sudah meninggal dunia?

 

Wassalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh,

Hamba Allah

 


Wa ‘alaikum salam warahmatullah wabarakatuh,

Saudaraku yang semoga dirahmati Allah SWT dan selalu diberikan istiqomah.

 

Dalam konteks ibadah puasa, fidyah adalah memberi makanan kepada faqir miskin ketika seorang muslim tidak mampu menunaikan kewajibannya untuk berpuasa baik karena telah renta ataupun sakit yang sulit untuk diharapkan sembuh, sebagaimana yang disampaikan oleh Allah SWT, Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (Qs. Al Baqarah: 184)

Apabila orang tua belum meninggal dunia, terlalu lemah untuk berpuasa, dan meninggalkan puasa karena tidak mampu, maka kewajibannya adalah membayar fidyah.

 

Berapa ukuran fidyah ?

Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah dan takaran fidyah. Sebagian ulama Syafii dan Malikiyyah adalah satu mud. Ini juga yang dipilih oleh Thowus, Sa’id bin Jubair, Ats Tsauri dan Al Auza’i. Sedangkan ulama Hanafiyah berpendapat bahwa kadar fidyah yang wajib adalah dengan 1 sho’ kurma, atau 1 sho’ sya’ir (gandum) atau ½ sho’ hinthoh (biji gandum). Ini dikeluarkan masing-masing untuk satu hari puasa yang ditinggalkan dan nantinya diberi makan untuk orang miskin. (lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/11538)

Al Qodhi ‘Iyadh mengatakan, “Jumhur (mayoritas ulama) berpendapat bahwa fidyah satu mud bagi setiap hari yang ditinggalkan. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8/21)

Beberapa ulama belakangan seperti Syaikh Ibnu Baz mengatakan bahwa ukuran fidyah adalah setengah sho’ dari makanan pokok di negeri masing-masing (baik dengan kurma, beras dan lainnya) (lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 15/203). Mereka mendasari ukuran ini berdasarkan pada fatwa beberapa sahabat di antaranya Ibnu ‘Abbas radhiyallahu‘anhuma.

*) Ukuran 1 sho’ sama dengan 4 mud. Satu sho’ kira-kira 3 kg. Setengah sho’ kira-kira 1½ kg.

 

Bagaimana cara pembayaran fidyah ?

Untuk teknis pembayaran fidyah dapat dilakukan dengan memasak lalu memberikan kepada faqir miskin sejumlah hari yang ditinggalkannya. Contoh apabila hari tidak berpuasa adalah 20 hari, maka berikanlah kepada 20 faqir miskin, atau diberikan kepada satu orang miskin dengan fidyah takaran selama 20 hari kepadanya. (lihat kitab Syarhul Mumthi’, 2/22 Syaikh Utsaimin)

Waktu pembayaran adalah hingga hari terakhir Ramadhan sebagaimana yang dilakukan sahabat Anas bin Malik (lihat Irwaul Gholil, 4/21-22 dengan sanad yang shahih).

 

Adapun pertanyaan Hamba Allah, ketika orang tua telah meninggal dunia dengan menanggung hutang puasa, maka jawabannya adalah sebagai berikut.

Bagi orang yang meninggal dunia, namun masih memiliki utang puasa, apakah puasanya diqodho’ oleh ahli waris sepeninggalnya ataukah tidak, dalam masalah ini para ulama berselisih pendapat. Pendapat terkuat, dipuasakan oleh ahli warisnya baik puasa nadzar maupun puasa Ramadhan. Pendapat ini dipilih oleh Abu Tsaur, Imam Ahmad, Imam Asy Syafi’i, pendapat yang dipilih oleh An Nawawi, pendapat para pakar hadits dan pendapat Ibnu Hazm.

Dalil dari pendapat ini adalah hadits ‘Aisyah, “Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki kewajiban puasa, maka ahli warisnya yang nanti akan mempuasakannya.” (HR. Bukhari no. 1952 dan Muslim no.114). Namun hukum membayar puasa di sini bagi ahli waris tidak sampai wajib, hanya disunnahkan. (lihat Al Minhaj SyarhShahih Muslim, 8/26)

Juga hadits Ibnu ‘Abbas, beliau berkata, “Ada seseorang yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian diaberkata, Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia, dan dia memiliki hutang puasa selama sebulan (dalam riwayat lain dikatakan: puasa tersebut adalah puasa nadzar), apakah aku harus mempuasakannya? Kemudian Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ya. Utang pada Allah lebih pantas engkau tunaikan. (HR.Bukhari no. 1953 dan Muslim no. 1148)

Tetapi apabila ketika orang tuanya meninggal dengan tidak meninggalkan hutang puasa, dalam arti meninggalnya di luar bulan Ramadhan maka tidak ada kewajiban membayarkan puasanya.

 

Wallahu a’lam. 

Barokallah fikum.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita kepada ilmu yang benar.

 

 

Wassalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh,

Oemar Mita, Lc. & Tim Syameela

Lebih Lanjut

Fidyah dan Qodlo Puasa

Dibuat oleh Admin

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ustadz, bagaiman tata cara pembayaran fidyah terkait tidak mampu nya saudara atau orang tua mereka di dalam menjalankan ibadah puasa? Siapa saja yang berhak meng qodlo puasa dengan atau tanpa fidyah?

Dan untuk ibu yang meninggalkan puasa karena sedang hamil ataupun menyusui, manakah yang dikerjakan? Membayar fidyah saja, atau meng qodlo puasa, atau keduanya (membayar fidyah + qodlo puasa)?

Apakah fidyah untuk hutang puasa tahun sebelumnya harus dibayarkan sebelum Ramadhan datang? Dan apakah suami bisa membayarkan fidyah untuk istrinya, atau seorang anak membayar fidyah untuk ibu/bapaknya?

Jazakumullah atas jawabannya, Ustadz.

 

Wassalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh,

Hamba Allah

 


Wa ‘alaikum salam warahmatullah wabarakatuh,

Saudaraku yang semoga dirahmati Allah SWT dan selalu diberikan istiqomah.

 

Islam merupakan syariat yang mudah dan mempermudah bagi urusan setiap manusia dan hamba Allah SWT di dalam ibadah mereka kepada Allah SWT karena pada hakekatnya Allah SWT cinta dengan yang mudah, sebagaimana yang difirmankan oleh-Nya.

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (Qs. Al Baqarah: 185)

Para ulama menjelaskan tentang golongan-golongan yang diberikan keringanan oleh syariat untuk tidak berpuasa, yaitu:

  • Orang tua yang sudah tidak kuat melaksanakan puasa
  • Musafir
  • Hamil dan menyusui
  • Haidl dan nifas

Yang mengqodlo adalah musafir dan orang yang haidl dan orang yang sakit yang masih diharapkan bisa untuk sembuh, sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat yang tertera diatas yaitu Qs. Al Baqarah: 185. Tata cara mengqodlo adalah tidak harus berurutan tetapi boleh dipisah-pisahkan sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas dan disampaikan Abu Hurairah (Atsar Bukhory 4/189, Abdur RazaqDarulquthni Ibnu Abi Syaibah dan Irwaul Gholil 4/95).

Orang tua yang sudah tidak mampu melaksanakan puasa, maka bagi mereka membayarkan fidyah yang diberikan kepada orang yang miskin, sebagaimana yang telah disampaikan dari Ibnu Abbas bahwa orang yang sudah renta yang tidak mampu berpuasa maka baginya membayarkan fidyahnya sebagaimana dikatakan dalam Atsar dari Bukhory (4505) dan juga keterangan dari Atsar dari Muadz bin Jabal beliau mengatakan bahwa menetapkan fidyah bagi orang yang sudah renta yang tidak mampu berpuasa (Atsar dari Abu Dawud dalam sunanya 507 dan Baihaqi dalam sunannya 4/200).

Tentang Rukhshoh yang diberikan untuk ibu yang tengah hamil atau menyusui, terjadi perbedaaan diantara para ulama, karena dalam dunia fiqih selalu terdapat perbedaaan diantara para ulama dengan dalil-dalil yang ada.

Sebelumnya dalil yang menerangkan keringanan bagi yang hamil dan menyusui adalah, Allah SWT memberikan keringanan separuh sholat dan puasa bagi musafir dan hamil serta menyusui.” (Ahmad 4/347 dengan derajat hadits Hasan Tirmidzi 715, an Nasai 4/180, Abu Dawud 1408)

Dan para ulama mengatakan:

  • Menggantinya dengan fidyah dan mengqodlonya di hari yang lain sebagaimana dikatakan Imam Syafii, Imam Malik, Imam Ahmad, dan sebagian syafiiyaah (pengikut Imam Syafii), Apabila dia kkhwatir terhadap dirinya maka dia memberi makan dan menggantinya di hari yang lain.” (lihat Al Majmu' 6/258)
  • Menggantinya dengan hari yang lain (qodlo) sebagaimana dikatakan oleh Imam Al Auzai', Ats Tsauri, Abu Hanifah, Abu Tsaur karena mereka menganalogikan orang yang hamil dan menyusui sebagaimana yang melakukan perjalanan (lihat kitab Al Jami fi Ahkami Nisa' 2/395).
  • Cukup dengan menggantinya dengan fidyah yang dibayarkan kepada orang miskin sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan madzhabnya Ibnu Ishaq dan inilah pilihan pendapat dari Syaikh Nasirudin Al Bany.

Abu Malik Kamal dalam kitabnya Shohih Fiqhis Sunnah juz 2/127 menyampaikan bahwa, yang lebih kuat adalah pendapat yang menerangkan bahwa bagi yang hamil dan menyusui cukup dengan memberikan makanan kepada orang yang miskin, karena pendapat ini didasarkan perkataan Ibnu Umar dan Ibnu Abbas dan tidak ada sahabat yang menyelisihinya.

Fidyah artinya memberikan makan kepada orang miskin atas ganti puasa yang tidak mampu dilaksanakan (lihat Tafsir Al Qurthubi 1/288). Dan ukuran fidyah adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Abbas adalah setengah sho' dari biji gandum (sekitar 2 liter beras - lihat kitab Nailul Author 4/315) yang diberikan kepada orang miskin. Sedangkan ukuran satu sho’ adalah sekitar 2,5-3 kg. Jika kita ambil satu sho’ adalah 3 kg (sebagai kehati-hatian) berarti ukuran fidyah setengah sho’ adalah 1,5 kg.

Bila shaum yang ditinggalkan adalah selama 5 hari, maka membayar fidyah untuk 5 orang fakir/miskin dalam sekali pemberian sehingga perorangnya mendapat jatah 1,5 kg. Atau, bisa juga diberikan kepada 1 orang fakir/miskin sebanyak 5 kali sehingga total ia mendapat 7,5 kg. Fidyah ini sendiri pemberiannya bisa mentah, atau telah dimasak selama tidak mengurangi ukuran mentahnya.

Pembayaran yang tepat dalam fidyah adalah dilakukan mana kala seseorang tidak mampu shoum pada hari tersebut, atau boleh juga dikumpulkan dan diberikan kepada fakir/miskin di akhir Ramadhon. Dalam pembayaran fidyah sebaiknya tidak ditunda-tunda karena hal itu adalah merupakan kewajiban. Dan seorang suami boleh membayarkan fidyah untuk istrinya, atau seorang anak boleh membayar fidyah untuk ibu/bapaknya. 

Demikian penjelasannya. Tentunya tidak menutup kemungkinan untuk perbedaaan dari para ulama, dan disini menerangkan secara global. Semoga dapat menjadi ilmu yang bermanfaat untuk kita semua.

 

Wallahu a’lam. 

Barokallah fikum.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita kepada ilmu yang benar.

 

 

Wassalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh,

Oemar Mita, Lc. & Tim Syameela

Lebih Lanjut